Talas Beneng, Komoditas Lokal Jadi Sumber Pangan, Mulai Populer

  • Bagikan

Oleh: Dodi Efendi

Talas Beneng termasuk suku talas-talasan (famili Aracea) yang tumbuh di pinggir hutan, tepi sungai, rawa dan tebing yang berhumus.

Talas jenis Xanthosoma Undipes K. Koch itu, berasal dari daerah tropis.

Hidup pada dataran rendah 250 mdpl sampai ketinggian 700 mdpl dengan curah hujan cukup (175-250 cm/tahun).

Umbi tanaman tersebut, dijadikan makanan alternatif oleh penduduk di Desa Juhut (Pandeglang, Banten), pada saat kekurangan bahan pangan pokok.

Selain itu, umbinya pun dapat dimakan sebagai panganan kecil, tangkai daunnya dapat digunakan sebagai sayuran (Gongalves 2000; Setyowati et al. 2007;Muttakin 2011).

Di Indonesia, dahulu talas Beneng tumbuh liar dalam hutan Gunung Karang (Pandeglang).

Saat ini Pemerintah Daerah Banten telah membudidayakannya untuk dijadikan salah satu komoditi bahan pangan pokok.

Pengolahan umbi dilakukan secara konvensional seperti dikukus atau digoreng.

Umbi diolah menjadi makanan ringan, seperti kripik (Muttakin 2011, Anggraini 2012), mie basah (Lestari dan Susilawati 2015) dan produk unggulan lokal untuk industri makanan (Pancasasti 2015).

Istilah Beneng berasal dari kata ”besar koneng” (bahasa Sunda), yang artinya ”besar kuning”.

Karena, tanaman dan umbi talas ini berukuran besar dan umbinya berwarna kuning.

Tanaman yang berumur 3 tahun mempunyai panjang umbi 2 m, diameter 15 cm dan berat 20 Kg.

Sebagian umbi masuk ke dalam tanah dan bagian atasnya berada di atas permukaan tanah (Prana dan Kuswara 2002; Pancasasti 2016).

Menurut Reyes-Castro et al. (2005), potensi talas Beneng belum banyak digali dan dikembangkan sehingga belum dimanfaatkan secara optimal.

Talas Beneng memiliki kandungan protein 8,77%; kadar pati 6,97%; kadar abu 8,53%; lemak 0,46% dan kadar air 84,65% (Muttakin 2011). Kandungan oksalat talas Beneng cukup besar yaitu 60,56 ppm (Visiamah 2016).

Untuk mengurangi kandungan asam oksalatnya, umbi dapat direndam dalam air garam 10% selama 120 menit.

Asam oksalat akan tereduksi sebesar 51,5% (Muttakin et al. 2015).

Pasar ekspor talas dinilai masih terbuka lebar, sehingga pemerintah bersemangat kembangkan budidaya talas, salah satunya talas beneng ini.

Sejauh ini, pihak Departemen Pertanian juga telah mulai mengembangkan talas beneng menjadi aneka makanan.

Seperti, dijadikan donat talas, chiffon cake, marmer cake, bubur beneng manis, kroket talas beneng, sambal goreng beneng, talam beneng dan klapertaart beneng.

Kepala Subdirektorat Ubi Kayu dan Aneka Umbi, Cornelia menyampaikan bahwa talas merupakan komoditas pangan alternatif yang mulai populer dikembangkan di Indonesia.

Karena memiliki nilai dan prospek ekonomi yang cukup bagus, khususnya sebagai bahan pangan dan komoditas ekspor ke Negara Jepang.

Pangsa pasar talas di Jepang masih terbuka lebar karena semakin menyempitnya lahan pertanian di sana.

“Dari luas lahannya itu, Jepang hanya bisa memenuhi 250 ribu ton per tahun, atau 65,7% dari total kebutuhan per tahun sebesar 380 ribu ton. Ini sebenarnya peluang kita untuk mengembangkan talas yang beorientasi ekspor. Kita dorong terus petani agar mulai meningkatkan nilai tambah talas,” ujarnya dalam keterangan tertulis, belum lama ini.

Talas Beneng merupakan umbi batang yang mana umbinya muncul sampai ke atas permukaan tanah mengikuti batang tanaman.

Jadi bisa memanjang/ meninggi sesuai tinggi pohon talas.

Meski telah memasuki masa panen tetapi belum dipanen juga, maka umbi talasnya tidak akan bermasalah.

Setelah dipanen, Talas Beneng bisa tahan (alias tidak berubah cita rasanya) sampai 4 bulan lamanya asal belum dikupas.

Namun umur panen yang optimal dengan cita rasa yang nikmat untuk olahan, yakni ketika sudah berumur 6-8 bulan.

Selain umbinya, permintaan daun Talas Beneng sebagai bahan tembakau non nikotin cukup tinggi.

Dikutip dari Suara Banten.id, Ketua Asputaben, Ardi Maulana menyebut, potensi ekspor talas beneng terbuka luas. Sejumlah permintaan dari Australia, Malaysia dan New Zealand untuk ekspor daun kering talas beneng mencapai 340 ton per bulan, namun petani Pandeglang baru bisa menyediakan 18 ton per bulannya.

Tiap satu hektar lahan bisa ditanami Talas Beneng sekitar 10.000 pohon dengan jarak tanam 1 x 1 m.

Talas Beneng bisa tumbuh dengan baik meski ditanam di bawah naungan.

Ukuran umbi yang bisa dipanen setelah umur 6-8 bulan sekitar 2-3 kg/ umbi.

Daunnya bisa mulai dipanen mulai usia 4 bulan dan selanjutnya setiap bulan panen daun dengan rata-rata beratnya 0,75 kg/ pohon.

Saat ini harga daun basah seribu rupiah per kilogram. Pemeliharaannya terbilang cukup mudah dan hemat biaya.

Apalagi hanya menggunakan pupuk kandang dari kotoran domba dan dalam budidaya Talas Beneng tidak perlu menggunakan pupuk kimia ataupun pestisida.

Komoditas pertanian ini cukup menarik dibudidayakan untuk bisa menambah penghasilan bagi para petani.

Mari kita manfaatkan lahan-lahan tidur menjadi produktif dengan budidaya talas beneng.

(Dirangkum dari berbagai sumber)***

  • Bagikan